![]() |
Berlaku Baik Terhadap Tetangga dan Menghormati Tamu Adalah Sebagian dari
Iman
عَنْ
أَبِي شُرَيْحٍ الْخُزَاعِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى
جَارِهِ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ
ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا
أَوْ لِيَسْكُتْ
32- Dari Abu Syuraih Al Khuza'i RA,
bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah
dan hari Akhir, hendaklah ia berlaku baik terhadap tetangganya. Barang siapa
beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya. Dan
barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang
baik atau diam" {Muslim 1/50}
Tidaklah Masuk Surga Orang yang Tetangganya Tidak Aman dari
Kejelekannya
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ
بَوَائِقَهُ
33- Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,
"Tidaklah masuk surga orang yang tetangganya merasa tidak aman dari
kejelekannya. " {Muslim 1/49}
Mencegah Kemungkaran dengan Tangan, Lisan dan Hati Adalah Sebagian dari Iman
عَنْ
طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ
قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ
الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا
فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ
لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ
أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
34- Dari Thariq bin Syihab, dia berkata, "Orang yang pertama
memulai khutbah hari raya sebelum shalat adalah Marwan. Lalu ada seorang
laki-laki berdiri mendekati Marwan kemudian berkata, "Bahwasanya shalat
(dikerjakan) sebelum Khutbah." Marwan menjawab, "Itu telah terabaikan." Abu Said
mengatakan, "Laki-laki ini telah menunaikan kewajibannya." Saya telah mendengar
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran
maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, kalau ia tidak mampu maka dengan
lisannya, dan kalau ia tidak mampu maka dengan hatinya, mengingkari (dengan
hati) itu adalah iman yang paling lemah. " {Muslim
1/50}
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ (مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا
كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ
وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ
يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ
جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ
مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ
مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ). قَالَ أَبُو رَافِعٍ فَحَدَّثْتُ عَبْدَ
اللَّهِ بْنَ عُمَرَ فَأَنْكَرَهُ عَلَيَّ فَقَدِمَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَنَزَلَ
بِقَنَاةَ فَاسْتَتْبَعَنِي إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يَعُودُهُ
فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ فَلَمَّا جَلَسْنَا سَأَلْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ عَنْ هَذَا
الْحَدِيثِ فَحَدَّثَنِيهِ كَمَا حَدَّثْتُهُ ابْنَ عُمَرَ
35- Dari Abdullah bin Mas'ud RA, bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda, "Tidaklah seorang nabi yang diutus oleh Allah Ta'ala kepada umat
sebelum aku, kecuali nabi tersebut mempunyai pengikut atau pendukung yang
memegang teguh ajarannya dan mengerjakan perintahnya. Akan tetapi setelah itu
datang penerus mereka, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka
kerjakan serta mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barang siapa
berjuang menghadapi mereka dengan tangannya maka ia seorang mukmin, barang siapa
berjuang menghadapi mereka dengan lisannya maka ia adalah seorang mukmin, dan
barang siapa berjuang menghadapi mereka dengan hatinya maka ia adalah seorang
mukmin. Tidak ada keimanan walaupun sebesar biji Sawi selain yang disebutkan
itu." Abu Rafi berkata, "Maka saya sampaikan hadits itu kepada Abdullah bin Umar
tetapi dia tidak mau mempercayainya, lalu datanglah Ibnu Mas'ud kemudian ia
turun ke Qanaah. Abdullah bin Umar RA pun mengikuti saya menuju Ibnu
Mas'ud RA, lalu saya sampaikan hadits kepada Ibnu Umar kemudian saya pergi
bersamanya. Tatkala kami duduk saya bertanya kepada Ibnu Mas'ud tentang hadits
tersebut, kemudian Ibnu Mas'ud menyampaikan hadits itu kepada saya (persis)
sebagaimana yang saya sampaikan kepada Ibnu Umar. {Muslim
1/50-51}
